Jumat, 03 April 2009

Sistem Informasi Geografis

Informasi geografis merupakan informasi tentang tempat pada permukaan bumi yang berarti pengetahuan tentang dimana sesuatu berada dan apa yang ada pada suatu lokasi tertentu. Informasi tersebut dapat sangat terinci, misalnya: informasi tentang lokasi semua bangunan yang ada di sebuah kota, atau informasi tentang pohon-pohon tunggal dalam suatu hutan. Namun dapat pula informasi tersebut sangat kasar, misalnya: iklim dari suatu daerah yang luas, kepadatan populasi dari negara-negara. Pada contoh-contoh tersebut dikatakan memiliki resolusi geografis yang berbeda.

Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sistem yang digunakan untuk mengelola data dan informasi keruangan. SIG memiliki cakupan yang sangat luas, mulai dari pengambilan data di lapangan menggunakan Global Positioning System (GPS), input data ke komputer, analisa dengan software, keluaran berupa model peta, 3D display, SIG berbasis web, dan sebagainya.

GPS merupakan sistem navigasi radio berbasis satelit yang dapat menyediakan data lokasi 3 dimensi (lintang, bujur, dan elevasi) di seluruh dunia yang sangat akurat dan tersedia selama 24 jam penuh.

SIG merupakan suatu database dengan tujuan khusus (special purposed database) dengan acuan utama sistem koordinat spasial yang telah umum digunakan dalam geografi. SIG yang komprehensif memerlukan:

1. Masukan data, dari peta, foto udara, citra satelit, survey, dan sumber-sumber lainnya.
2. Penyimpanan data, pengambilan kembali, dan query.
3. Transformasi data, analisis, dan pemodelan, termasuk statistik spasial.
4. Pencetakan data, misalnya peta, laporan-laporan dan perencanaan.

Sebagai sistem untuk mengelola data geografis maka sistem tersebut harus memiliki kapabilitas pemetaan dan analisa segala sesuatu yang terdapat atau terjadi di permukaan bumi. Sebagai sebuah sistem informasi mengintegrasikan operasi database yang umum (mis. Query) dan analisa statistik dengan kekhasan visualisasi dan analisa yang ditawarkan oleh peta. Kemampuan tersebut yang membedakan SIG dengan SI yang lain dan membuatnya sangat bernilai untuk menjelaskan kejadian, memprediksikan suatu akibat, dan menyusun perencanaan strategis.

Sekarang ini, aplikasi SIG tidak hanya menjadi domain sektor-sektor yang berhubungan dengan lahan saja (seperti militer, pertambangan, kehutanan, perkebunan dan pertanian), tapi juga sudah secara luas digunakan untuk kesehatan, perdagangan, distribusi, jaringan, dan bisnis.

Banyak instansi pemerintah dan perusahaan sudah mulai menganggap penting atau bahkan sudah menggunakan SIG. Mengembangkan SIG, sebagaimana sistem-sistem lainnya, tentu saja harus dibarengi dengan strategi yang tepat agar pengembangannya tidak salah arah. Banyak sekali pengembangan sistem informasi yang gagal karena berorientasi kepada output. Tidak ada mekanisme updating atau desain ulang sistem serta terkuncinya kode sumber (source code) adalah penyebab gagalnya pengembangan sistem informasi. Tidak terkecuali SIG, sering sekali pengembangannya diarahkan untuk menghasilkan peta yang besar, menghasilkan CD/DVD interaktif, SIG berbasis web seperti GoogleEarth, dan display tiga dimensi. Pola pikir tersebut keliru karena orientasinya adalah output tanpa menekankan bagaimana proses di dalam sistem berjalan dengan baik.

Pengembangan SIG berorientasi output, akan menyebabkan banyak masalah seperti data tidak lengkap, data tidak terorganisir dengan baik, analisis super sulit, output tidak akurat, tidak ada standardisasi dan banyak manipulasi. Pengembangan SIG harus berorientasi kepada proses sehingga fokusnya adalah menata bagaimana proses dalam SIG berjalan dengan baik; bagaimana input data dilakukan, analisis dijalankan, output disajikan, dan adanya review/update secara berkesinambungan.

SIG adalah sistem pendukung keputusan dalam instansi/perusahaan. Manfaat SIG jangan hanya dinikmati kelompok atau perorangan tertentu yang ekslusif. Untuk lingkup yang lebih luas, data-data keruangan yang merupakan hak publik, harus dapat diakses oleh publik misalnya data cuaca, infrastruktur, topografi, tata ruang, rawan bencana, dan sebagainya.

Mengembangkan SIG harus terintegrasi dengan memperhatikan semua komponen dalam SIG; yaitu manusia, perangkat lunak, perangkat keras, data/informasi keruangan dan metode. Kesalahan dengan hanya menitikberatkan pada satu komponen saja akan mengakibatkan gagalnya pengembangan SIG.

Perlu ditekankan bahwa pengembangan SDM SIG bukan hanya ditujukan untuk mendidik operator, perlu analis sistem dalam SIG. Pengambil keputusan sering salah menganggap bahwa SIG hanyalah tugas pegawai rendahan. Justru sebaliknya SIG, akan dirasakan manfaatnya jika ada ‘pemikir’ di dalamnya, tidak saja operator sotware. Pengembangan SDM SIG sudah seharusnya diarahkan juga untuk menghasilkan pemikir SIG. Pejabat-pejabat di instansi/perusahaan lah yang seharusnya mengikuti pelatihan seperti ini. Standardisasi perlu menjadi perhatian dalam mengembangkan SIG. Standardisasi akan menjamin keseragaman metode pengambilan data, analisis dan penyajian. Namun standardisasi jangan dilakukan dalam hal penggunaan software.

Perlu perubahan paradigma, khususnya di level pengambil keputusan, bahwa SIG bukan saja sebagai alat presentasi melainkan alat perencanaan. Justru keunggulan utama SIG berada pada kemampuannya untuk perencenaan, bukan sebagai pembuat peta.

SIG, berintegrasi dengan disiplin lainnya, dapat digunakan untuk menentukan lokasi yang optimal, distribusi komoditi yang efektif, mitigasi bencana, prediksi keruangan, dan sebagainya. Oleh karena itu pengambilan keputusan mengenai lahan atau bersifat keruangan harus melibatkan SIG.

Pengembangan SIG berdasarkan strategi yang tepat akan menjamin kesinambungan pengembangannya. Output yang serba “wah” seperti display 3D dan GIS berbasis web akan dihasilkan dengan sendirinya dengan pengembangan SIG yang benar.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda